Feed on
Posts
Comments

ciremai1Belakangan sempat mendengar berita soal sejumlah pendaki yang tersesat di Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Mendengar hal itu, jadi teringat pengalaman sendiri ketika berjuang menelusuri setapak demi setapak jalur di gunung yang cukup sulit ditaklukkan ini.

Pendakianku di Ciremai sendiri terjadi ketika masih aq masih duduk di bangku kuliah semester 1, tahun 2002 atau 2003 aq lupa tepatnya. Yang paling kuingat adalah, aq sampai bela-belain cabut alias bolos kuliah beberapa hari hanya untuk petualangan ini.

Dan ‘pengorbananku’ itu pun sepertinya tak percuma. Sebab sampai sekarang, sampai kejadian itu sudah lewat bertahun-tahun lamanya, aq tak akan lupa bagaimana asyiknya, menantangnya, sulit dan capeknya acara ‘tamasya’ tersebut.

Kurang lebih 13 jam perjalanan jalur setapak yang masih liar kuarungi dari kaki gunung yang mempunyai tinggi lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut itu sampai puncaknya.

Aq mendaki pada sore hari. Lantaran aq dan teman2ku belum ada yang pernah hiking ke gunung ini jadi kami tidak tahu kalau sebelum mendaki kami harus menyiapkan perbendaharaan air. Yang kami tahu, sumber air di Ciremai terbilang sulit tapi tidak tahu kalau sepanjang jalur yang kami lalui tak akan ada air yang bisa ditemui.

Alhasil, ketika perjalanan sudah berlangsung kurang lebih 30 menit kami harus turun gunung lagi untuk mengambil persediaan air. Kami baru ngeh setelah bertemu pendaki lain yang juga bernasib sama :p. Setiap carier (tas) membawa drigen 5 liter, dan perjalanan pun dilanjutkan kembali.

Di tengah jalur yang masih ‘buta’ dan kondisi cuaca yang tak memungkinkan akhirnya kami memutuskan untuk bermalam sejenak di tengah hutan. Makan seadanya dengan mie instant dan minum yang harus diirit-irit sudah cukup nikmat untuk disantap di tengah cuaca yang sudah menggigil tersebut.

Gunung Ciremai memang memiliki kekhasan tersendiri. Salah satunya adalah soal jalur pendakiannya yang terjal dan dikerubungi debu. Ranting pohon yang menjulur menjadi pegangan kami, sementara jalur yang ditutup debu tersebut akan menjadi tanah yang tidak bersahabat ketika hujan turun.

Jujur saja, menurutku, puncak Ciremai tak sebagus puncak Gunung Gede atau Pangrango. Namun kalau diukur dari petualangan yang didapatkan, kedua gunung yang ‘menjembatani’ Cipanas dan Sukabumi itu sepertinya harus diakui bukanlah tandingan Ciremai.

Puncak Ciremai menghadirkan kawah berdiameter besar yang di bagian bawahnya masih terlihat aktif dihiasi dengan gas-gas kimia berwarna putih dan kuning. Di tempat inilah biasanya para pendaki mengabadikan perjuangan mereka untuk jeprat-jepret sejenak sambil mengagumi ciptaan Ilahi.

Ciremai memang cukup angker bagi para pendaki. Hal ini terlihat dari sejumlah batu nisan mengatasnamakan para pendaki yang telah gugur ketika berjuang menaklukkannya.

Sulit rasanya menghilangkan geliat software bajakan di bumi Indonesia. Jangankan berharap menghilangkan, menurunkan 1% tingkat pembajakannya saja sudah super sulit.

Menurut hasil penelitian terbaru lembaga riset IDC, pada tahun 2008 lalu tingkat pembajakan software di Indonesia mencapai 85%, atau merangkak naik dibandingkan 2007 yang berada di angka 84%.

Prestasi minor ini tentu seakan menjadi tamparan telak bagi pemerintah. Pasalnya, kalau dirunut ke belakang, sederet program untuk memasyarakatkan penggunaan software legal di Tanah Air telah digalakkan. Mulai dari sosialisasi hingga rentetan razia oleh pihak kepolisian.

Bahkan, pemerintah membentuk tim khusus untuk menangani pelanggaran terkait HaKI ini lewat kelompok kerja yang diberi nama Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual (Timnas HaKI).

Tim tersebut bisa dikatakan sebagai tim bertabur ‘bintang’, sebab jajarannya diisi oleh deretan menteri dan pejabat setingkat menteri. Tak ayal, di awal kelahirannya, tim yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden no 4 tahun 2006 itu digadang-gadang dapat menjadi penyelamat muka Indonesia di mata dunia yang begitu concern terhadap permasalahan HaKI.

Namun apa mau dikata, setelah sukses meninggalkan presentase pembajakan 87% menjadi 84% di 2007 — serta vonis kelam Priority Watch List di 2006 — Indonesia kembali menapak jalan mundur berdasarkan penelitian terbaru. Kekecewaannya pun berlipat, kembali ke daftar Priority Watch List USTR dan presentase pembajakan mengalami kenaikan.

Memang, yang diurus Timnas HaKI bukan cuma soal pembajakan software. Tapi jika dibandingkan dengan industri lain, seperti industri farmasi, musik, dan industri lain yang terkait HaKI, industri software terlihat lebih gencar melakukan aksi kampanye dengan menggandeng pemain industri atau asosiasi terkait.

Pilih Software Asli atau Beras?

Khusus masalah penggunaan software bajakan yang dianggap sebagian kalangan sudah menjadi ‘budaya’, tentu patut diberi perhatian khusus. Pasalnya, ‘budaya’ yang dimaksud di sini lahir dari desakan bebagai hal. Mulai dari produsen software, pemerintah hingga salah dari penggunanya juga.

Tak percaya, coba tanyakan kepada pengguna software bajakan kenapa dirinya tak membeli software asli. Pasti sebagian besar akan menjawab bahwa karena software legal tersebut jauh lebih mahal harganya. Ya, inilah salah satu sumber permasalahan tersebut.

Software yang paling banyak dibajak di Indonesia ataupun belahan dunia lainnya adalah software yang biasa dipakai sehari-hari, seperti aplikasi perkantoran, edit gambar dan desain serta anti virus. Namun coba tengok harga jual resmi dari software-software tersebut, pasti di kisaran puluhan hingga ratusan dolar AS.

Nah, dengan harga tersebut, mampukah hal ini disesuaikan dengan daya beli masyarakat Indonesia? Sepertinya tidak. Tak pelak, ketika ada ajakan soal ‘pentingnya membeli software asli’ maka tak sedikit cibiran yang menyertai sambil mengatakan bahwa dana untuk membeli software legal lebih baik dialokasikan untuk membeli beras untuk stok sebulan.

Sehingga tak salah, jika kampanye pemerintah soal penggunaan software legal belakangan lebih menyasar pengguna korporat. Mungkin mereka menyadari bahwa untuk pengguna korporat lebih mempunyai daya beli ketimbang pengguna rumahan (personal user). Namun langkah ini sepertinya menjadi serba salah karena jumlah pengguna software bajakan justru lebih banyak berasal dari personal user yang daya belinya rendah.

AS boleh saja ditetapkan sebagai negara dengan tingkat pembajakan terendah dengan presentase 20%. Namun apakah masyarakat di negara adidaya itu bisa disandingkan dengan Indonesia yang notabene standar hidupnya jauh lebih rendah.

Produsen software tentu perlu memperhatikan hal ini. Boleh saja mereka beralasan bahwa harga yang ’selangit’ tersebut terpaksa dilakukan untuk menutupi biaya produksi dan R&D untuk membuat produk mereka.

Namun ketimbang akan banyak pengguna software mereka yang malah tidak bayar, bukankah bakal lebih baik mendapat pemasukan meski seadanya daripada tidak dapat apa-apa. Dengan kata lain, jangan memperlakukan setiap negara atau segmen pasar dengan perlakuan yang sama karena kemampuan daya beli mereka berbeda.

Pilihan Open Source

Alternatif untuk menghindari penggunaan software bajakan sebenarnya bisa dilakukan dengan hijrah ke software Open Source yang bisa didapatkan dengan gratis. Namun banyak pengguna komputer yang ketika disodori Open Source malah menolak karena alasan tidak mengerti cara penggunaannya alias tidak familiar.

Mereka yang menolak tersebut biasanya sudah kadung dijejali dengan software proprietary dari awal mereka belajar komputer. Habis mau bagaimana lagi, dewasa ini, pelajaran komputer sudah diajarkan di bangku sekolah dasar, bahkan ada juga yang sejak taman kanak-kanak.

Namun apa yang diajarkan para pendidik hampir semuanya merupakan software proprietary, jadi tunas-tunas bangsa ini seakan sudah ‘dicuci otak’ sejak menggerakkan jari jemarinya untuk pertama kali di atas keyboard.

Tak salah jika hal itu sempat membuat kegelisahan praktisi TI Tanah Air Onno Purbo. Ia pun pernah mendesak pemerintah untuk memasukkan kurikulum Open Source dalam pelajaran TI di sekolah. Tujuannya, jelas untuk meruntuhkan dominasi software proprietary di sektor pendidikan.

Namun pemerintah pun sepertinya adem ayem saja menanggapi hal tersebut. Dengan tetap membiarkan kurikulumnya sambil terus berharap tingkat pembajakan software di Indonesia turun.

Memimpin dengan Contoh

Ada hal menarik yang disampaikan Kepala Perwakilan Business Alliance Indonesia Donny A. Sheyoputra beberapa waktu lalu terkait cara untuk menekan penggunaan software ilegal. Yaitu pemerintah harus memberi contoh terlebih dahulu tentang penggunaan software legal sebelum menuntut masyarakat melakukan hal sama.

Ini juga yang kerap menjadi pertanyaan masyarakat, apakah lembaga pemerintah dan pihak kepolisian sudah bersih dari software bajakan sebelum berkoar-koar ke masyarakat?

Tentu jika itu bisa diungkap dan dibuktikan tentu bisa menjadi dorongan tersendiri buat masyarakat melihat sang pemimpinnya sudah melakukan hal benar. Namun jika ternyata masih menjadi misteri sepertinya asa masyarakat untuk ‘be legal’ pun sulit terealisasi.

Penulis, Ardhi Suryadhi, adalah wartawan detikINET.com. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.

IT KPU ‘Impoten’?

pemilu2009ct

Pemerintah saja sudah gatal dengan lambatnya sistem TI Pemilu dalam mengirimkan dan menghitung suara. Bagaimana dengan masyarakat? Mereka pun pasti lebih tak sabar menanti siapa yang akan menjadi wakilnya di
Senayan.

Sampai Selasa (21/4/2009) pagi, pukul 06:00, suara yang masuk ke Tabulasi Nasional KPU tercatat baru di kisaran 13 jutaan suara. Sementara target KPU sendiri, minimal 80 persen dari suara yang mencontreng dapat mereka tampung.

Jumlah DPT pada Pemilu 2009 ini kurang lebih ada sekitar 171 juta, taruhlah ada 40 persen yang golput atau tak dapat kesempatan mencontreng. Dengan kata lain, ada sekitar 101 juta suara yang harusnya ditampung KPU.

Namun sudah dua minggu sejak hari pencontrengan berselang, suara yang masuk ke Tabulasi Nasional Pemilu yang bertempat di Hotel Borobudur nan jauh dari harapan.

Padahal diikutsertakannya IT dalam Pesta Demokrasi lima tahunan ini sejatinya untuk lebih memudahkan dan mempercepat pekerjaan KPU, bukan malah sebaliknya. Alhasil, ketika hal itu terjadi beragam penilaian minor menyerang sistem TI KPU.

Kisruh Sejak Awal

Berbagai masalah yang menyertai TI KPU sebenarnya sudah terjadi sejak awal persiapannya. Tak percaya? Hal itu sudah bisa diendus ketika Ketua KPU Abdul Hafiz Anshari tiba-tiba ‘memecat’ alias tak lagi mengikutsertakan Ketua dan Sekretaris Tim TI KPU Dr Bambang Edi Leksono dan Hemat Dwi Nuryanto dalam persiapan terakhir.

Hafiz saat itu berkilah, awal mula perselisihan ini akibat KPU punya pandangan lain, sedangkan Ketua TI KPU juga punya pandangan berbeda. Perbedaan yang dimaksud salh satunya terkait penggunaan teknologi Intellegent Charracter Recognition (ICR), yang nantinya akan memegang peran penting dalam rekapitulasi suara.

Tak pelak, kedua orang yang disingkirkan tersebut memiliki asa pesimistis terhadap lembaga yang pernah diperkuatnya tersebut. KPU sendiri, di tengah kejaran deadline hari pencontrengan dan segunung harapan dari masyarakat akhirnya mengambil langkah taktis dengan meminta bantuan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dengan dalih untuk menyelamatkan kepentingan bangsa dan negara, BPPT tentu saja menerima ‘todongan’ tersebut. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 25 orang ahli TI dari BPPT diterjunkan untuk menyiapkan segala sesuatunya.

Mendapati ‘produk yang setengah jadi’, tim BPPT pun mengakui tak memiliki target muluk untuk menyediakan sistem TI pemilu yang wah. Mereka pun mengeluarkan target klise, “kami upayakan semaksimal mungkin”.

Hasilnya, ya ’semaksimal’ yang diupayakan. Situs Tabulasi Nasional yang beralamat di tnp.kpu.go.id di awal kelahirannya sempat down sehingga sulit diakses sampai puncaknya suara yang masuk ke Tabulasi Nasional berjalan bak semut.

Jika sudah begini, seperti biasa, setiap pihak yang ditodong coba mengeles bak jurus Tai Chi. Bahkan ironisnya, tim TI KPU dalam beberapa hari terakhir mendadak ngumpet, sulit sekali dihubungi. Telepon tak diangkat, SMS pun tak dibalas.

Kambing Hitam ICR

Penggunaan teknologi ICR yang pada awalnya menuai kekhawatiran akhirnya benar-benar menjadi biang kesalahan. Seperti diketahui, dengan sistem ini, formulir C1-IT, yakni hasil rekap perolehan suara di TPS yang dibuat khusus dan ditulis tangan, akan dikirim ke kelurahan dan diteruskan ke KPUD Kabupaten/Kota untuk discan.

Hasil scanning yang berbentuk image ini kemudian ditafsirkan ke dalam bentuk angka dan huruf lewat ICR. Hasilnya lantas dikirim ke KPU pusat untuk diproses dan ditayangkan di website khusus sebagai hasil perolehan suara per TPS.

Namun, itu kan harapan di atas kertas. Sementara implementasinya tak semanis itu. Dikatakan praktisi TI dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ir Dedy Syafwan MT, kerawanan sistem TI KPU justru terletak pada ICR itu sendiri.

Akurasi pemindahan dari gambar ke angka dan huruf belum teruji. Angka 7 di gambar bisa teridentifikasi sebagai angka 1, angka 6 bisa jadi 0, dan sebagainya. Demikian juga huruf dari a hingga z, bisa berubah dari aslinya karena form C1-TI ditulis tangan.

Mengingat adanya potensi kesalahan ini, kata Dedy, perlu proses validasi dan verifikasi atas hasil ICR untuk memastikan kebenaran datanya. Jika tidak, sangat mungkin hasil ICR berbeda dengan data yang tertulis di formulirnya.

“Apalagi jumlah formulirnya mencapai ribuan mengingat jumlah TPS per kabupaten/kota bisa lebih dari 1.000, dan tiap TPS menyetor 8 lembar formulir,” ujarnya.

Gagal Total

Senada dengan Dedy, M. Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) pun menjatuhkan penilaian serupa.

“Salah satu yang menurut kita merupakan pilihan fatal itu ya pemanfaatan teknologi ICR. Itu menurut saya gagal total. Kemarin 500 daerah menyatakan mereka tidak mampu atau kesulitan memanfaatkan teknologi itu, ada beritanya. Itu artinya, semua KPUD gagal menggunakan solusi tersebut,” seloroh Didin — sapaan akrabnya — kepada detikINET beberapa waktu lalu.

Itu baru dari sisi ICR, belum lagi dilihat dari sisi SDM yang dinilai masih belum cakap dengan teknologi yang digunakan sehingga pekerjaan terhambat, server tak memadai hingga harus meminjam server BPPT dan masih banyak lagi rintangan menghadang.

Didin bahkan berani menilai bahwa kinerja sistem TI KPU pada Pemilu 2009 ini tak lebih dari 25 persen jika dibandingkan dengan Pemilu 2004 lalu.

KPU memang tak bisa disalahkan seutuhnya. Sebab, bagaimanapun juga mereka sudah berusaha dengan keras untuk menciptakan Pesta Demokrasi bagi rakyat Indonesia dengan tertib dan lancar.

Ya, semoga saja pada Pilpres nanti kesalahan-kesalahan yang mencoreng muka KPU ini bisa segera diperbaiki. Jika tidak, hati-hati saja terjatuh di lubang yang sama.

Penulis, Ardhi Suryadhi, adalah jurnalis di detikINET.com. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.

sma1Belakangan lagi rajin buka foto2 jaman SMA di Facebook, dan akhirnya sepenggal kisah klasik ketika masih berseragam putih abu-abu itu pun kembali terngiang di kepala.

Jadi ketawa geli kalau ingat masa2 sekolah dulu. Dibilang culun yang memang culun, tapi penuh dengan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Kisah klasik yang kembali membuatku tertawa di sore itu adalah ketika aq duduk di kelas II SMU, kebetulan aq sekolah di SMU 4 Gambir, Jakarta.

Kebetulan pas mendaftar, sekolah itu termasuk sekolah unggulan pada zamannya. Tapi gak tahu ya sekarang, banyak yang bilang siy kualitasnya sudah menurun..:p.

Anyway, back to the topic, saat kelas II SMU, aq pernah melakukan hal yang terlalu ‘kreatif’ (baca: konyol) yang membuat teman2 sebarisku di kelas diusir keluar kelas. Apa kejadiannya? ya sepele siy, cuma gara2 nyorakin dengan suara lantang kepada temanku yang bernama Intan.

“Ciee bule, bule, bule..cuit cuit,” sahutku, saat Intan dipanggil Pak Pangab (Panggabean) ke depan kelas. Seingetku, bukan aq saja yang menyerukan suara tersebut. Teman sebangku ku — Dono — dan entah siapa lagi juga melakukannya sehingga membuat suara sorakan terngaung di seluruh kelas.

Sontak, hal itu mengusik Pak Pangab yang mau mengajarkan kami Akuntansi. Dia pun mengeluarkan kata-kata ’saktinya’, lupa tapi apa itu..:P. Intinya, dia merasa geram dengan ulah kami. Tak butuh waktu lama, sebaris tempat duduk yang tepatnya di dekat pintu masuk kelas II-2 pun diusir keluar kelas oleh Pangab.

Nah ketika di luar kelas, salah menyalahkan pun terjadi di antara kami. Saat itu aq berdalih bukan aq pelakunya, toh ada suara lain yang lebih sengau dari suaraku ikut memperburuk suasana, kayanya si Dono..:p

Meski pada protes, mereka — korban pengusiran — pada akhirnya pun ikut ‘menikmati’ masa pengasingan itu. Ada yang tidur, bengong, ngerumpi, mencoba merapat ke pintu dengan sesekali mendengar ‘ceramah’ Pangab di kelas, tapi tetap ada juga yang masih bete tampangnya karena tak terima diusir di kelas, Ajeng dan Deni..:p.

Korban pengusiran yang terlihat sangat menikmati pengasingan ini tentu saja teman sebangku ku, Dono. Dengan santai dan nikmatnya, sohibku ini dapat memejamkan matanya meski dengan beralas lantai dan sandaran kayu.

Tak kuasa melihat gayanya yang nyeleneh, aq pun terpancing untuk mengerjainya. Kulemparkanlah kapur ke mulutnya,,(gak ada niat jahat loh don, cuma iseng..:p). “Ahh reseh loe, ganggu aja,” usiknya.

Beda lagi dengan Ajeng, kalu cewe yang duduknya di belakangku ini, masih tak terima dirinya dikeluarkan. “Aduuhh, sekali-kali gpp jeng dikeluarin, anggap aja nambah pengalaman,” ujarku, mencoba menenangkannya.

Toh, hal itu ternyata juga tak menyurutkan kekesalannya. Bisa kelihatan kok dari raut mukanya, masih agak2 gimana gitu..:p. Memang, bagi Ajeng, diusir dari kelas merupakan sesuatu hal yang tabu.

Tapi coba lihat sekarang, hal itu pasti akan menjadi kisah klasik menarik nan culun yang dimilikinya, meski sudah 9 tahun berlalu (2000 - 2009)…:p

Memang benar seperti yang dibilang banyak orang, sekolah adalah masa-masa yang paling indah. Masa dimana tak perlu kita memikirkan gaji bulanan, cicilan motor, bayar listrik & telepon air dan tanggungan lainnya. Yang perlu kita lakukan hanyalah belajar, dengan diselingi sedikit ‘kreativitas’ tentunya…:D

Ketika pergi ke mall, bandara ataupun gedung-gedung perkantoran, petugas keamanan biasanya hanya mengecek barang bawaan dan kendaraan, karena dikhawatirkan Anda membawa bahan peledak.

Tapi pernah suatu kali, detektor bahan peledak tersebut malah memeriksa telapak tangan saya. Alasannya? yaa kurang lebih sama, karena dikhawatirkan sempat memegang bubuk mesiu atau bahan peledak lainnya.

Pengalaman unik ini saya dapatkan ketika menyambangi Kedubes Australia di Kuningan, Jakarta Selatan. Tempat ini pantas disematkan sebagai salah satu tempat dengan penjagaan ekstra ketat.

Para petugas keamanannya sangat teliti, kendaraan yang saya tumpangi saja diperiksa oleh beberapa orang petugas. Mulai dari atas, bawah, kanan, kiri tak akan luput dari pengamatan mereka. Ditambah lagi, dua lapis gerbong yang sepertinya terbuat dari baja juga siap menjadi pengawal beton yang dijamin sulit ditembus.

Jadi ngebayangin, insiden pemboman yang terjadi beberapa tahun lalu di Kedubes Australia. Sepertinya siy, bom itu tak akan melukai sasaran utamanya, gedung utama ataupun orang-orang yang ada di markas besar Australia di Indonesia ini.

Pasalnya, sudah tertahan lebih dulu oleh dua gerbang menjulang tersebut. Kalau sudah begini, yaa paling-paling yang menjadi korban adalah petugas keamanannya, which is orang Indonesia semua…:)

facebook-ban2001Facebook sejatinya digunakan untuk menjalin pertemanan atau networking. Namun dalam perkembangannya, laksana candu, ada yang menggunakan situs jejaring sosial ini secara berlebihan sehingga mengganggu aktivitas kesehariannya.

Hal inilah yang kemudian menjadi kekhawatiran terbesar bos/pemilik perusahaan ketika memutuskan melakukan pemblokiran. Yaitu karena takut produktivitas karyawan menurun lantaran terlalu sering Facebook-an.

Continue Reading »

Pengguna komputer yang tukang ngoprek harap berhati-hati jika menemui folder palsu bernama ‘Credit Card’, ‘Hack’ dan ‘XXX’. Jangan sekali-kali dibuka, jika tidak ingin komputer Anda menjadi ‘tanpa harapan’ karena terinfeksi virus Hopeless 2008.

Continue Reading »

good-bye.jpgTak terasa sudah jalan tiga tahun saya bergabung dengan detikINET, kanal berita seputar TIK di keluarga detikcom. Dan dalam kurun waktu tersebut, inet — begitu biasa detikINET dipanggil — kian sering berganti punggawa.

Ilm (inisial) menjadi anak inet pertama pada masa saya yang memutuskan untuk hengkang. Saat itu wanita berjilbab ini ingin lebih fokus ke kuliahnya jadi memutuskan untuk keluar.

Lalu diikuti oleh oyd. Kalau pria berkacamata ini dulunya memperkuat inet Jogja. Oyd juga yang rajin merombak tulisan saya waktu masih berstatus magang. Namun dia sekarang sudah hijrah ke Jakarta dan bekerja di IBM.

Nks menjadi punggawa inet berikutnya yang pergi. Padahal nks sudah dianggap sebagai ‘ibu rumah tangga’ inet, yang suka mengingatkan ketika ‘anaknya’ keliru namun tak sungkan juga untuk menegur, tak tekecuali bagi bos inet sekalipun :).

Kepergian nks alhasil menyisakan lubang yang susah ditambal inet pada saat itu. Pasalnya, dwn tak lama setelahnya juga mengambil cuti untuk keperluan kuliah sedangkan amz masih dalam rangka cuti melahirkan.

Seiring waktu berjalan skuad Jogja — fyk & faw — makin mengkilap, seringkali mereka menjadi penyumbang pageviews terbesar. Inet pun terus berkembang, desain dipermak dan konten diperkaya sehingga lebih ciamik.

Perubahan ini membuat amz diplot untuk menjadi bos video inet. Sayangnya, amz tak lama mengisi pos ini karena juga harus mengenyampingkan karirnya lantaran harus menjaga si kecil Shaina di rumah.

Ohh iya, sebelum amz juga ada cing-cing alias yunitalia (belum sempat mendapat insial) yang juga mengundurkan diri lebih dulu. Mantan mahasiswi dbu ini padahal kerap jadi ‘bunga’ yang dikerumuni ‘lebah-lebah detikcom’.

Tak lama berselang, giliran dev masuk menjadi punggawa baru inet. Namun sekelebat itu pula, giliran dbu yang melepas jabatan pucuk komandonya di inet. Pak bos yang ‘metal’ ini mendapat tugas baru menjadi VP Online Publisher detikcom.

Banyak hal yang sudah ditinggalkan dbu di inet, mulai dari visinya yang jangan selalu terpaku dengan berita, berita dan berita, hingga kebiasannya mengajak kabur satu tim walau sekadar makan siang atau main biliar di Berlian saat jam kerja.

Itulah dbu, kadang-kadang gaya dan kelakuannya terlihat nyeleneh dari luar. Ia pun punya pesan unik bagi inet menjelang kepergiannya, “Lebih baik minta maaf daripada minta izin,” tukasnya. Apa artinya? Silahkan ditafsirkan sendiri.

Tonggak kepemimpinan inet selanjutnya dipercayakan kepada wsh. Namun tak lama kemudian tibalah dwn yang harus mengucap ’selamat tinggal’. Ia mengaku berat mengambil keputusan tersebut, namun keputusan ini harus diambil lantaran pengantin baru ini juga dikejar deadline menyelesaikan thesisnya di UGM, Jogja.

Entah siapa lagi yang akan mengucap kata ‘pamit’ berikutnya? Dan siapa pula yang akan tetap bertahan di kubik ini? Biar waktu yang menjawab.

-ash-

Dosen UBM Belajar Ngeblog

tes gambarIni untuk latihan ngeblog untuk dosen UBM.. Enak gak??

stasiun_pasar_senen.jpgMinggu lalu merupakan minggu yang cukup sibuk buat saya. Tak tanggung-tanggung, saya harus berpetualang mulai dari Stasiun Pasar Senen Jakarta sampai Bandara Changi Singapura.

Saya di Stasiun Senen ketika saya ingin pergi ke Jogjakarta, dalam rangka meeting dan relaksasi Tim Inet. Saya menumpang kereta Senja Utama untuk sampai ke kota Gudeg ini.

Meski kereta ini merupakan kelas bisnis, jangan harapkan fasilitas ‘wah’ di kereta ini. Bahkan, di sepanjang lorong kereta, yang ada malah para penumpang yang bergelimpangan untuk meregangkan badan dan memejamkan mata sejenak.

Justru berbagai fasilitas datang dari ‘orang luar’, bukan dari petugas KAI. Semisal para pedagang makanan & minuman, penyedia pengharum ruangan dadakan hingga para banci pengamen. Pokoknya lengkap deh. Inilah keunikan angkutan transportasi tanah air.

Sementara saya, meskipun duduk bersimpuh di atas kursi yang lumayan empuk, entah kenapa tak dapat memejamkan mata sepanjang perjalanan. Alhasil, hanya mata merah dan sedikit sembab yang saya dapat ketika sampai di Stasiun Tugu Jogjakarta.

singapore-airlines500.jpgSetelah kembali lagi ke Jakarta, keesokan paginya saya sudah harus bergegas ke Singapura. Kali ini, untuk memenuhi tugas liputan dari kantor dalam rangka undangan dari Toshiba.

Waktu yang mepet membuat saya tak cukup punya waktu untuk mengeksplor Negeri Singa ini. Pun demikian, saya cukup bersyukur, karena ini adalah kali pertama saya bertandang ke Singapura.

Dilihat sekilas dari jalan-jalan yang saya telusuri, negara ini memang bisa dikatakan sudah masuk sebagai negara maju. Segala sesuatunya sudah tertata rapi, (hampir) tak ada sampah yang bertebaran di pinggir jalan serta fasilitas umum yang benar-benar layak bagi warganya. Hal itu membuat saya segan ketika ingin menyebrang jalan dengan lebih memilih jembatan penyebrangan.

Meski begitu, hal ini sebanding dengan biaya hidup yang harus dikeluarkan jika kita ingin tinggal disini, yang pastinya lebih mahal. Jelas saja, Singapura merupakan negara dengan biaya hidup termahal di Asia Tenggara.

-ash-

Older Posts »