13 Jam Menuju Puncak Ciremai

1 Jun 2009

ciremai1Belakangan sempat mendengar berita soal sejumlah pendaki yang tersesat di Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Mendengar hal itu, jadi teringat pengalaman sendiri ketika berjuang menelusuri setapak demi setapak jalur di gunung yang cukup sulit ditaklukkan ini.

Pendakianku di Ciremai sendiri terjadi ketika masih aq masih duduk di bangku kuliah semester 1, tahun 2002 atau 2003 aq lupa tepatnya. Yang paling kuingat adalah, aq sampai bela-belain cabut alias bolos kuliah beberapa hari hanya untuk petualangan ini.

Dan ‘pengorbananku’ itu pun sepertinya tak percuma. Sebab sampai sekarang, sampai kejadian itu sudah lewat bertahun-tahun lamanya, aq tak akan lupa bagaimana asyiknya, menantangnya, sulit dan capeknya acara ‘tamasya’ tersebut.

Kurang lebih 13 jam perjalanan jalur setapak yang masih liar kuarungi dari kaki gunung yang mempunyai tinggi lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut itu sampai puncaknya.

Aq mendaki pada sore hari. Lantaran aq dan teman2ku belum ada yang pernah hiking ke gunung ini jadi kami tidak tahu kalau sebelum mendaki kami harus menyiapkan perbendaharaan air. Yang kami tahu, sumber air di Ciremai terbilang sulit tapi tidak tahu kalau sepanjang jalur yang kami lalui tak akan ada air yang bisa ditemui.

Alhasil, ketika perjalanan sudah berlangsung kurang lebih 30 menit kami harus turun gunung lagi untuk mengambil persediaan air. Kami baru ngeh setelah bertemu pendaki lain yang juga bernasib sama :p. Setiap carier (tas) membawa drigen 5 liter, dan perjalanan pun dilanjutkan kembali.

Di tengah jalur yang masih ‘buta’ dan kondisi cuaca yang tak memungkinkan akhirnya kami memutuskan untuk bermalam sejenak di tengah hutan. Makan seadanya dengan mie instant dan minum yang harus diirit-irit sudah cukup nikmat untuk disantap di tengah cuaca yang sudah menggigil tersebut.

Gunung Ciremai memang memiliki kekhasan tersendiri. Salah satunya adalah soal jalur pendakiannya yang terjal dan dikerubungi debu. Ranting pohon yang menjulur menjadi pegangan kami, sementara jalur yang ditutup debu tersebut akan menjadi tanah yang tidak bersahabat ketika hujan turun.

Jujur saja, menurutku, puncak Ciremai tak sebagus puncak Gunung Gede atau Pangrango. Namun kalau diukur dari petualangan yang didapatkan, kedua gunung yang ‘menjembatani’ Cipanas dan Sukabumi itu sepertinya harus diakui bukanlah tandingan Ciremai.

Puncak Ciremai menghadirkan kawah berdiameter besar yang di bagian bawahnya masih terlihat aktif dihiasi dengan gas-gas kimia berwarna putih dan kuning. Di tempat inilah biasanya para pendaki mengabadikan perjuangan mereka untuk jeprat-jepret sejenak sambil mengagumi ciptaan Ilahi.

Ciremai memang cukup angker bagi para pendaki. Hal ini terlihat dari sejumlah batu nisan mengatasnamakan para pendaki yang telah gugur ketika berjuang menaklukkannya.


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive