Sensasi Beku di Puncak Eropa

30 Dec 2011

alpen5

Jika ada istilah yang mengatakan bahwa ‘keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata’, mungkin inilah kesan pertama yang didapat penulis ketika berpetualang ‘mendaki’ Jungfraujoch, salah satu spot di rangkaian pegunungan Alpen, Swiss, yang juga menjadi puncak Eropa.

Sensasi beku dari salju abadi masih terngiang-ngiang di kepala. Belum lagi dengan suguhan pemandangan yang seakan terus memanjakan mata sepanjang perjalanan. Sungguh fantastis!

Ya, memang untuk sampai ke Jungfraujoch penulis tidak mencapainya dengan mendaki dalam arti harfiah. Melainkan menggunakan jasa kereta yang memang sudah tersedia di area wisata yang terdapat di wilayah Interlaken, Swiss tersebut.

alpen9

Namun ingat, jangan cuma menyiapkan pakaian tebal yang menutupi seluruh tubuh untuk menyambangi tempat ini. Siapkan pula dana tebal!

Pasalnya, untuk menggunakan jasa kereta yang memiliki stasiun di puncak gunung tersebut, pengguna harus mengeluarkan dana 100 Franc Swiss atau lebih dari Rp 1 juta. Namun jangan khawatir, dana sebesar itu akan dibayar lunas dengan pengalaman dan sensasi yang didapatkan nantinya.

Perjalanan kereta ini dimulai dari stasiun di wilayah Interlaken, yang mayoritas penduduknya berbahasa Jerman. Seperti diketahui, ada tiga bahasa yang digunakan di negeri coklat ini, selain Jerman, bahasa yang populer lainnya adalah Prancis dan Italia.

alpen3

Stasiun pemberangkatkan tak terlalu ramai kala penulis dan rombongan sampai. Kereta yang bergerbong kuning sudah ada beberapa yang parkir di peron. Lima belas menit kemudian, masinis mempersilakan kami masuk dan petualangan pun dimulai.
Kereta pun melaju dengan mantap. Padahal tampilan chasing kereta ini sejatinya tidak meyakinkan, begitu tradisional. Namun meski bertampang jadul, sepertinya mesin kereta ini tak termakan zaman sehingga mampu melahap jalur tanjakan pegunungan.

Disapa ‘Lukisan’ Panorama

Untuk sampai di puncak Jungfraujoch, perjalanan ini harus tiga kali berganti kereta. Dimana pada perjalanan awal atau di kereta pertama, perjalanan dimulai dengan rentetan pohon mapple, pinus, dan pohon lainnya yang pastinya menyegarkan.

Sekitar 20 menit selanjutnya, sampailah di stasiun persinggahan untuk berganti kereta. Dari sini sepanjang mata memandang sudah terpapar spot-spot untuk berfoto. Bak sebuah lukisan yang tergantung, pemandangan rangkaian pegunungan dan rumah pedesaan khas Eropa begitu enak dipandang.

Berlanjut di kereta kedua, perjalanan sudah memasuki wilayah bersalju tebal. Meski cuaca cerah, salju dari Alpen sudah menyapa pengunjung dari dalam gerbong. Ingin rasanya langsung bersentuhan dengan cairan yang membeku tersebut. Namun apa daya, kami masih harus menahan rasa penasaran memegang langsung sang salju abadi.

Di stasiun transit terakhir, salju sudah terhampar bebas di jalanan. Suhu sudah semakin menusuk, dan langkah untuk cepat-cepat menambah baju hangat adalah pilihan yang tepat.

alpen2

Semakin tinggi, kereta kini melaju dengan melalui perut gunung. Ya, jalur yang dibuat memang tidak melalui pinggiran perbukitan, melainkan langsung menembus perut bumi. Hal itu dapat dirasakan ketika kereta yang melaju melalui terowongan gelap. Tak ada yang bisa dilihat dari kanan-kiri jendela, hanya setelah keluar terowongan langsung terhampar pemandangan putih bersih.

Beku dan Udara yang Menipis

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari titik awal, penulis akhirnya berhasil sampai di puncak Jungfraujoch. Tercatat suhu udara menunjukkan di angka minus 10 derajat. Jangan ditanya seperti apa dinginnya. Freezer di kulkas rumah sepertinya juga kalah.

alpen6

Hal ini belum termasuk rasa pusing yang menggelantung. Maklum, Jungraujoch berada ribuan meter di atas permukaan laut. Artinya, peredaran udara semakin tipis, sehingga jika terlalu bersemangat bergerak akan kian cepat menguras energi. Kepala pun bisa jadi pusing dibuatnya.

Keluar dari tempat berteduh, ‘taman bermain’ salju di atas pegunungan pun terhampar di hadapan. Di spot inilah yang membuat penulis sulit mengungkapkan kata-katanya dalam merefleksikan keindahan yang dilihat.

Salju putih nan tebal menutupi hampir seluruh arah pandang. Ditambah dengan lekukan rangkaian pegunungan membuatnya seakan telah menyihir mata yang memandang. Tak lupa, tiang berbendera Swiss pun turut dipancangkan.

alpen8

Untuk menjaga keamanan, pengelola membatasi area puncak Jungfraujoch ini dengan tali. Sebab dikhawatirkan ada wilayah longsor yang dilalui. Pun demikian, tak kenapa. Wilayah puncak yang dibatasi sudah lebih dari cukup untuk memuaskan hasrat bernarsis ria dengan berfoto.

Maklum, bagi kita yang tinggal di negara tropis, salju adalah benda yang sangat sulit ditemui. Apalagi jika bisa merasakannya langsung di sumbernya, pegunungan Alpen yang mempesona.

alpen7

Ingin lebih lama rasanya hati ini menghabiskan waktu bermain salju. Namun apa daya, suhu tubuh sudah membeku, sehingga terpaksa harus masuk ke dalam shelter. Nah, di dalam shelter juga banyak tempat menarik yang bisa ditemui.

Mulai dari restoran, penjual souvenir, museum mini, hingga kerajaan es. Ya, Anda tak salah baca. Ada Ice Palace di tempat ini, bentuknya seperti sebuah ruangan yang seluruh isinya diisi oleh es. Ada beragam ukiran es di dalamnya, dan untuk mencapainya juga harus melalui terowongan dari es. Mulai dari dinding, langit-langit, hingga lantainya terbuat dari es yang licin.

alpen4

Hampir dua jam berlalu, petualangan penulis di Jungfraujoch pun harus diakhiri. Kami sudah ditunggu kereta untuk kembali menuruni pegunungan. Tentu saja ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Berkunjung ke puncak eropa, salju abadinya seakan telah membekukan ingatan di kepala sehingga sulit dilupakan.


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive